SETIAP negara memiliki kekayaan kuliner yang tidak
terbilang jumlahnya. Prancis salah satu di antaranya, apalagi negara ini
memiliki empat musim yang membuat khasanah kulinernya semakin kaya.
"Prancis biasanya banyak makanan berkuah karena udara di sana dingin, jadi butuh makanan yang menghangatkan badan. Sementara, ayam dan daging dimasak dengan suhu api kecil dan lama sehingga lebih empuk. Secara keseluruhan, kuliner di setiap wilayahnya tidak sama, seperti di Indonesia yang beragam," jelas Pranowo, Executive Sous Chef Hotel Le Meridien, kepada Okezone di Hotel Le Meridien, Jakarta, baru-baru ini.
Menurut Chef Pranowo, masakan Prancis mengandung banyak nilai protein dan kalori, selain berfungsi menghangatkan tubuh. Ada satu yang khas dan mirip dengan masakan Italia, yakni seafood boyabey. Ini adalah jenis sup yang berisi udang dan kerang.
Ketika masuk musim panas, tambahnya, otomatis jenis hidangan pun berubah. Proses memasaknya cenderung lebih lama, seperti ikan dibuat seperti terin (jelly), daging berprotein tinggi yang diberi krim dan telur, ataupun foie gras (baca: foagra) alias hati angsa yang dimasak dengan wine Brandy.
Sementara saat memasuki musim gugur, sajian yang dibuat lebih sederhana. "Musim gugur, mereka biasanya pilih masakan yang gampang diolah, seperti sup bawang. Caranya, bawang putih ditumis lalu dimasak bersama daging cincang dan direbus sampai enam jam. Penyajiannya menggunakan keju," ungkapnya.
Terakhir, kuliner Prancis pun tak pernah terlepas dari menu foagra, yang senantiasa hadir pada semua musim di Prancis. Dikatakan Chef Pranowo, foagra masuk dalam spesifikasi makanan kerajaan, yang mewah dan mahal. Treatment pada angsa khusus, proses memasak pun istimewa dengan memakai wine jenis Brandy, juga dimasak dengan suhu yang tidak terlalu panas.
“Sebagai teman makan, biasanya disajikan roti brioche yang rasanya manis atau bisa memakai buah yang diolah menjadi saus. Spesifikasinya, masakan ini butuh proses yang panjang," tutupnya. (ftr)
"Prancis biasanya banyak makanan berkuah karena udara di sana dingin, jadi butuh makanan yang menghangatkan badan. Sementara, ayam dan daging dimasak dengan suhu api kecil dan lama sehingga lebih empuk. Secara keseluruhan, kuliner di setiap wilayahnya tidak sama, seperti di Indonesia yang beragam," jelas Pranowo, Executive Sous Chef Hotel Le Meridien, kepada Okezone di Hotel Le Meridien, Jakarta, baru-baru ini.
Menurut Chef Pranowo, masakan Prancis mengandung banyak nilai protein dan kalori, selain berfungsi menghangatkan tubuh. Ada satu yang khas dan mirip dengan masakan Italia, yakni seafood boyabey. Ini adalah jenis sup yang berisi udang dan kerang.
Ketika masuk musim panas, tambahnya, otomatis jenis hidangan pun berubah. Proses memasaknya cenderung lebih lama, seperti ikan dibuat seperti terin (jelly), daging berprotein tinggi yang diberi krim dan telur, ataupun foie gras (baca: foagra) alias hati angsa yang dimasak dengan wine Brandy.
Sementara saat memasuki musim gugur, sajian yang dibuat lebih sederhana. "Musim gugur, mereka biasanya pilih masakan yang gampang diolah, seperti sup bawang. Caranya, bawang putih ditumis lalu dimasak bersama daging cincang dan direbus sampai enam jam. Penyajiannya menggunakan keju," ungkapnya.
Terakhir, kuliner Prancis pun tak pernah terlepas dari menu foagra, yang senantiasa hadir pada semua musim di Prancis. Dikatakan Chef Pranowo, foagra masuk dalam spesifikasi makanan kerajaan, yang mewah dan mahal. Treatment pada angsa khusus, proses memasak pun istimewa dengan memakai wine jenis Brandy, juga dimasak dengan suhu yang tidak terlalu panas.
“Sebagai teman makan, biasanya disajikan roti brioche yang rasanya manis atau bisa memakai buah yang diolah menjadi saus. Spesifikasinya, masakan ini butuh proses yang panjang," tutupnya. (ftr)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar